Segudang Manfaat Bercerita Bagian 2

2. Ide cerita bisa dari mana saja. Cerita bisa dibuat sendiri sehingga anak dapat mengusulkan saat proses cerita berjalan. Ide bercerita bisa dari mana saja dari kegiatan anak maupun dari cerita-cerita yang orangtua ketahui. Namun meski orangtua maupun anak dapat menuturkan tentang apa pun, pastikan ceritanya melibatkan tokoh. Juga ada konsistensi mengenai tokoh yang diceritakan. Penting, untuk anak usia 2—4 tahun menggunakan bantuan alat peraga, seperti: boneka, video, atau dengan menggunakan benda-benda di sekitar. Alat peraga akan sangat efektif untuk anak di usia tersebut.

3. Perhatikan durasi dan waktu saat bercerita. Cerita menjelang tidur sebaiknya pendek saja, 15—20 menit. Khusus untuk anak usia sekolah, akan lebih baik apabila kegiatan bercerita dilakukan setelah anak belajar. Penting untuk diperhatikan, kesepakatan tentang frekuensi bercerita dalam satu minggu antara orangtua dan anak.

4. Hindari cerita dengan kon!ik bertingkat. Dalam kegiatan bercerita pada anak, khususnya batita, hindari cerita yang mengandung kon!ik bertingkat. Misal, cerita tentang tokoh yang semula jahat kemudian berpurapura menjadi baik untuk memenangkan kon!ik padahal sesungguhnya ia jahat. Akan lebih sederhana bila si tokoh jahat kemudian insaf atau sadar dan berubah menjadi baik. Unsur kon!ik dibutuhkan agar cerita menarik namun sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak dalam menangkap cerita.

5. Diskusikan inti cerita. Setelah bercerita, diskusikan dengan anak mengenai inti cerita sebagai usaha internalisasi nilai cerita kepada anak. Bila perlu temukan kejadian yang sama dengan apa yang diceritakan yang pernah dialami anak sebelumnya atau sebuah kisah yang pernah ia dengar sebelumnya dengan pesan dan hikmah yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *