Sabun Alami

Semua bermula dari ruam-ruam merah di kulit anaknya. Anissa Sudjatmiko merasa ada yang tak beres dengan sabun yang digunakan untuk mandi anaknya. Tidak ingin membiarkan alergi itu terus mendera, ia pun mencoba meracik sabun sendiri. “Dengan racikan sendiri, saya jadi tahu apa saja yang harus dikurangi dan ditambah untuk merawat kulit anak saya,” kata Anissa. Galuh Sekartaji punya kisah yang mirip dengan cerita Anissa. Ia membuat sabun herbal—demikian dia menamainya—bermula dari alergi yang dialami ibunya. Kandungan sodium lauryl sulphate (SLS), yang memicu produk sabun dan sampo berbusa banyak, membuat kulit ibunya terasa panas dan gatal. Ia pun memutuskan membikin sabun sendiri dari bahanbahan alami. “Busanya aman untuk kulit sensitif. Tidak menyakiti dan limbahnya tidak berbahaya,” tutur Galuh. Aktivitas Anissa dan Galuh membuat sabun sendiri itu berlanjut hingga kini. Anissa bercerita, bahan dasar untuk membuat sabun mudah ditemukan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Minyak kelapa dan minyak zaitun adalah senjata utama. “Minyak kelapa berfungsi sebagai agen pembersih yang paling tinggi. Karena itu, dalam membuat sabun, saya memainkan komposisi bahan ini,” ujar Anissa. Jika menginginkan sabun yang daya bersihnya tinggi dan menimbulkan sensasi kesat, Anissa akan menambahkan banyak minyak kelapa sebagai bahan bakunya. Tentu saja jenis sabun ini kurang sesuai bagi pemilik kulit sensitif karena akan membuat kulit kering yang memperburuk reaksi kulit. Sedangkan untuk kulit sensitif, menurut Anissa, sabun terbaik adalah yang hanya mengandung sedikit minyak kelapa.

Anissa menyebutkan, inilah kelebihan sabun natural. “Saya berperan sebagai pencipta sabun yang dapat disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing. Misalnya sabun untuk orang tua saya yang begini, untuk suami yang begini, untuk saya dan anak-anak begini,” ucapnya. Anissa tidak hanya dapat bermain-main dengan komposisi. Dia dapat meramu warna, bentuk, hingga Bikinan Sendiri Sabun Alami Membuat sabun natural bukan lagi sebatas hobi di waktu senggang. Diciptakan sesuai dengan kebutuhan kulit penggunanya. aroma sabun yang akan dibuat. Tidak ada satu sabun yang sama persis, bahkan yang berasal dari cetakan yang sama sekalipun. Bentuknya yang sophisticated membuat tampilannya tidak membosankan sehingga aktivitas mandi pun terasa menyenangkan. Aktivitas mencipta ini, menurut Anissa, menjadi proses meditatif untuk dirinya. Ketika suasana hatinya sedang tak keruan, dia akan menyendiri, membuat sabun, sembari mengendapkan seluruh sesak agar dapat ceria kembali. “Sabun natural ini mendorong kulit melakukan self healing, sementara proses penciptaannya merupakan healing process untuk saya.” Anissa mengungkapkan, dalam membuat sabun, ia mesti menyendiri di ruang khusus selama lebih dari satu jam. Itu dilakukan karena ia menggunakan soda api yang bisa menimbulkan percikan. Lebih dari itu, ia pun merasa memiliki ruang pribadi, me time, yang berharga. Aroma-aroma khas bunga, rempah, dan buah-buahan membuat mood-nya baik kembali. Sementara itu, kecermatan dalam meramu komposisi bahan membuatnya berlatih fokus. Prosesnya, pertama kali dia menuang soda api ke air destilasi murni. Selama proses pencampuran air destilasi dan soda api, adonan dapat mencapai suhu 100 derajat Celsius. Karena itu, perlu didiamkan satu-dua jam lalu dicampur. “Jangan dibalik supaya tidak memercik,” ujarnya. Lalu adonan diaduk perlahan untuk memastikan semua bahan tercampur sekaligus meminimalkan rongga udara. Adonan berbentuk mirip adonan kue ini lantas dimasukkan ke cetakan dan mulai “dipahat”. Setelah itu, didiamkan selama dua-tiga hari untuk dipotong-potong. Meski demikian, sabun ini belum dapat digunakan. “Minimal menunggu empat sampai enam minggu supaya soda apinya hilang. Kalau pakai 100 persen minyak zaitun mesti menunggu selama sembilan bulan,” tuturnya. Berkat hobi ini, dia kerap diundang untuk memberi pelatihan membuat sabun. Sabun buatannya pun kerap dipesan untuk suvenir pernikahan. Anissa tak dapat mematok harga pasti untuk setiap sabun yang dia ciptakan. “Tergantung bahannya, biaya produksinya bervariasi, dari minimal Rp 50-300 ribu, bahkan bisa lebih,” ucapnya.

Sabun yang dihasilkan pun tak banyak. Dari 1 kilogram minyak kelapa, ia dapat menghasilkan sekitar 12 Bahan baku alami untuk membuat sabun natural. Proses pembuatan sabun. Pencetakan sabun. batang sabun. Sementara itu, Galuh berani memasarkannya di bawah label Sekartaji. Perempuan 28 tahun ini konsisten menghasilkan delapan varian sabun dengan khasiat berbeda. Semuanya berbahan alami, seperti dari ampas kopi, yoghurt, madu, dan lidah buaya. “Tidak ada pewarna buatan, pewangi kimia, dan tidak ada pemutih. Pemutih itu dusta bagiku,” ujar Galuh. Bukan hanya sabun, kini Galuh juga sukses mengembangkan minyak rambut, salep madu, minyak telon, detergen, serta air mawar murni dan air kenanga. Anissa pun tengah mempersiapkan diri untuk masuk ke pasar yang lebih luas. Adapun persoalan kulit, yang menjadi alasan keduanya mulai menggemari proses penciptaan sabun, sudah tuntas. Kulit ibu Galuh sudah tak masalah dengan sabun herbal ini. Begitu pula Anissa, “Anak saya tidak ruam-ruam lagi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *