Tips Mudah Memotong Rambut Anak Bagian 2

Agar batita duduk tenang, siapkan kegiatan menarik, misalnya membaca buku, mendengarkan musik, menonton video, bercerita, atau bermain dengan mobil-mobil serta boneka kesayangan. Melok menegaskan bahwa benda atau kegiatan pengalih ini juga dapat membuat anak menjadi lebih relaks dan tidak tegang. Demikian pula jika memotong rambut di salon, duduklah di sampingnya untuk sekadar menenangkan si kecil dengan mengajaknya mengobrol, bercerita, atau bernyanyi bersama.

* Karena Lapar Dan Mengantuk

Tentunya kalau tidak mau anak jadi rewel, hindari saat-saatnya dia lapar dan mengantuk. Mama tentu tahu kapan waktunya. Jadi, berikan kesempatan tidur dulu, atau makan dulu, baru dipotong rambutnya. Begitu pun jika ke salon, lakukan ketika si kecil sudah fresh bangun tidur, atau perutnya sudah kenyang. Paling tidak hal-hal ini bisa meminimalisasi ketidaknyamanannya. Selamat mencoba ya, semoga si kecil tak lagi rewel!

Tips Mudah Memotong Rambut Anak

* Bila tak mau ke salon

sat-jakarta.com – Tak masalah bila Mama lebih suka membawa batita ke salon untuk menggunting rambut. Namun, buatlah si kecil familiar dengan situasi atau kondisi saat pemotongan rambut. Misalnya, dengan mengajak anak mengunjungi salon tersebut sehari sebelumnya untuk mengobservasi. “Saat observasi, ceritakan pada anak mengenai apa yang terjadi di sana dan beri pengertian bahwa kapster merupakan orang yang terlatih di bidangnya sehingga tidak perlu khawatir proses pemotongan rambut tersebut akan melukai anak,” ujar Melok.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di jakarta

“Mama dan Papa juga dapat mengajak anak berkenalan terlebih dulu dan bercakap-cakap dengan kapster yang akan memotong rambut anak.” Paling baik memang mengunjungi tempat potong rambut yang sudah menjadi langganan, sehingga anak sudah terbiasa dengan situasinya, bahkan mungkin terbiasa bermain-main sembari menunggu anggota keluarga lainnya memotong rambut.

Sama seperti di rumah, saat di salon, kenalkan anak dengan alat-alat yang digunakan di salon seperti gunting dan sisir, juga jubah lebar untuk menutupi tubuh dari potongan rambut. Menurut Melok, beberapa batita merasa cemas karena ketika potong rambut ia harus ditutupi dengan jubah lebar yang dipersepsinya sebagai sesuatu yang membatasi gerak. Jika batita tidak nyaman dengan jubah lebar itu, bawa saja syal atau selimut kesayangan dari rumah.

Atau jika anak takut melihat pantulan wajahnya di cermin besar, posisikan dirinya duduk membelakangi cermin. Saat ini sudah banyak ditemukan salon dengan kelengkapan yang sesuai bagi anak-anak. Misalnya, tempat duduk berbentuk mobil-mobilan. “Ini akan menghilangkan rasa takut dan membantunya meng asosiasikan proses memotong rambut sebagai proses yang menyenangkan,” tutur Melok.

* Bila tak mau duduk diam

Meminta batita untuk diam sebaiknya dilakukan dengan memberi tahu berapa lama ia harus duduk diam. Katakan padanya bahwa proses memotong hanya lima menit, misalnya. Tunjukkan pada jam bahwa lima menit adalah pergeseran jarum panjang dari angka 12 ke angka 1, atau angka 1 ke angka 2. Cari waktu yang terdekat dengan saat Mama ingin memotong kukunya, lalu tepatilah rentang waktu yang disepakati. Dengan demikian si kecil akan tahu setelah waktu yang dijanjikan ia dapat kembali bermain seperti sebelumnya.

Merancang Cerita yang Lebih Seru dan Kreatif

Ada beberapa langkah yang harus dipersiapkan sebelum bercerita. Dengan mengikuti langkah-langkah berikut, niscaya kegiatan bercerita jadi menyenangkan dan memberikan hasil yang bermanfaat.

Siapkan materi cerita

Pastikan dalam bercerita, mama papa fokus pada cerita atau kisah yang sifatnya menghibur. Bisa bersumber dari mana saja, kisah yang sudah ada, pengalaman sendiri, pengalaman atau kegiatan anak sehari-har, masih banyak lagi. Saat bercerita perlu ada penjelasan atau pembukaan awal sebagai orientasi atau arah cerita, ada masalah atau konflik yang membuat cerita menjadi menarik. Tak ketinggalan solusi sebagai pemecahan masalah di dalam cerita dan reorientasi sebagai penutup dimana anak dapat diminta menceriktan kembali hingga menyebutkan nilai moral atau hikmah penting dalam cerita tersebut.

Memiliki keterampilan bercerita

Semua orang memiliki keterampilan bercerita. Agar bercerita menjadi aktivitas yng menarik dan berkesan, diharapkan orangtua kreatif saat menyampaikan, dapat dengan atau tanpa alat bantu. Misal, dalam bercerita, orangtua dapat menggunakan berbagai irama, tepuk tangan, lompat-lompat hingga menggunakan alat bantu berupa seprai, kursi atau apapun yang tersedia disekitar.

Memilih dan mempersiapkan tempat

Aktivitas bercerita tidak harus di tempat tidur menjelang tidur, tapi dapat dilakukan di ruang keluarga atau ruang lain. asal memenuhi kriteria kebersihan, keamanan dan kenyamanan. Upayakan orangtua dan anak dapat saling berdampingan satu sama lain.

Siapkan alat peraga

Bercerita dapat dilakukan dengan berbagai alat bantu atau alat peraga. Alat bantu merupakan bagian yang cukup penting karena dapat memengaruhi keberhasilan dari cerita. Semakin menarik alat bantu atau alat peraga yang digunakan, akan semakin menarik anak-anak. Pastikan alat bantu yang digunakan adalah benda-benda yang ada atau tersedia di sekitar, agar alat bantu tersebut dapat memicu kreativitas dan imajinasi yang lebih tinggi.

Keterampilan anak sangat berpengaruh dari kreativitas mama dalam menumbuhkannya. Untuk itulah tugas orangtua dimulai dari sejak anak kecil agar mereka terampil dan kreativ dalam segala hal. Hal ini sangat penting sekali untuk kemajuan dan kesuksesan anak. Sementara itu untuk anak yang membutuhkan bekal untuk tes bahasa asing dapat ikut pelatihan di tempat terbaik kursus IELTS Jakarta. Dengan demikian anak akan lebih percaya diri dan lancar dalam mengerjakan semua soal tes.

Segudang Manfaat Bercerita Bagian 2

2. Ide cerita bisa dari mana saja. Cerita bisa dibuat sendiri sehingga anak dapat mengusulkan saat proses cerita berjalan. Ide bercerita bisa dari mana saja dari kegiatan anak maupun dari cerita-cerita yang orangtua ketahui. Namun meski orangtua maupun anak dapat menuturkan tentang apa pun, pastikan ceritanya melibatkan tokoh. Juga ada konsistensi mengenai tokoh yang diceritakan. Penting, untuk anak usia 2—4 tahun menggunakan bantuan alat peraga, seperti: boneka, video, atau dengan menggunakan benda-benda di sekitar. Alat peraga akan sangat efektif untuk anak di usia tersebut.

3. Perhatikan durasi dan waktu saat bercerita. Cerita menjelang tidur sebaiknya pendek saja, 15—20 menit. Khusus untuk anak usia sekolah, akan lebih baik apabila kegiatan bercerita dilakukan setelah anak belajar. Penting untuk diperhatikan, kesepakatan tentang frekuensi bercerita dalam satu minggu antara orangtua dan anak.

4. Hindari cerita dengan kon!ik bertingkat. Dalam kegiatan bercerita pada anak, khususnya batita, hindari cerita yang mengandung kon!ik bertingkat. Misal, cerita tentang tokoh yang semula jahat kemudian berpurapura menjadi baik untuk memenangkan kon!ik padahal sesungguhnya ia jahat. Akan lebih sederhana bila si tokoh jahat kemudian insaf atau sadar dan berubah menjadi baik. Unsur kon!ik dibutuhkan agar cerita menarik namun sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak dalam menangkap cerita.

5. Diskusikan inti cerita. Setelah bercerita, diskusikan dengan anak mengenai inti cerita sebagai usaha internalisasi nilai cerita kepada anak. Bila perlu temukan kejadian yang sama dengan apa yang diceritakan yang pernah dialami anak sebelumnya atau sebuah kisah yang pernah ia dengar sebelumnya dengan pesan dan hikmah yang sama.

Segudang Manfaat Bercerita

Lakukan secara rutin, cukup 15—20 menit sehari, maka si kecil pun akan memperoleh manfaatnya. Setiap orangtua pasti pernah melakukan aktivitas bercerita kepada anaknya. Bahkan boleh dibilang, bercerita adalah aktivitas yang sudah semenjak dahulu dilakukan oleh para orangtua kepada anakanaknya. Jadi, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru. Sayangnya, keterbatasan waktu kerap membuat orangtua masa kini mengabaikan aktivitas ini. Padahal, ada banyak manfaat di balik kegiatan tersebut untuk tumbuh kembang anak.

Selain itu, aktivitas bercerita tergolong simpel dan tidak membutuhkan biaya besar. Kalaupun membutuhkan biaya, pastinya tidaklah banyak. Bahkan, bisa memanfaatkan beragam benda yang ada di sekitar kita, seperti: boneka, gelas, dan sendok atau berbagai peralatan rumah tangga lainnya untuk memperkuat cerita yang akan disampaikan. Apa sih yang dimaksud dengan bercerita ini?

Bercerita adalah menggambarkan tentang sesuatu hal secara verbal. Bercerita berbeda dari mendongeng. Bercerita bisa menuturkan apa pun, sementara mendongeng hanya menceritakan kisah yang fiktif alias tidak benarbenar terjadi yang idenya bisa jadi diberikan secara turun-temurun. Ada banyak manfaat yang dapat diraih oleh anak melalui aktivitas ini.

Di antaranya: mengasah imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbahasa, mengembangkan aspek sosial, moral, dan emosi anak, menumbuhkan semangat berprestasi, serta melatih konsentrasi anak. Melalui cerita, anak juga akan mengenali dan memahami berbagai alternatif penyelesaian konflik non-agresi. Tak hanya itu, bercerita juga dapat menjadi media untuk menjalin kelekatan antara orangtua dan anak. Anak akan mendapat pengalaman melakukan aktivitas bersamasama dengan orangtuanya.

Rambu-rambu Bercerita

Agar bercerita memberikan manfaat yang maksimal, tentunya Mama Papa disarankan melakukannya tidak hanya asal terlaksana. Ada beberapa rambu yang sebaiknya menjadi perhatian orangtua:

1. Pastikan orangtua dan anak duduk berhadapan ataupun berdampingan. Lokasinya dapat duduk di lantai, tempat tidur, atau kursi anak. Duduk berdampingan tak hanya memudahkan orangtua dan anak bercerita, sekaligus menciptakan kelekatan dan kehangatan secara emosional.

Untuk anak yang ingin sekali menguasai bahasa asing dapat memberikannya pelatihan bahas asing melalui tempat kursus bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik. Sehingga ia bisa mahir dan menjadi bekal di dunia kerjanya mendatang.