Membangun Budi Pekerti Bag3

Kalaupun orang yang menjadi panutannya banyak, usahakanlah untuk semua panutan si kecil ini sejalan dan seirama. Ya satu dua hal pasti berbeda sih, tetapi setidaknya nilainilai dasar yang kita tanamkan sama.

Pendidikan budi pekerti adalah pembelajaran seumur hidup, tak bisa tuntas dalam waktu singkat. Tak perlu menunggu anak besar untuk mengajarkannya, semakin cepat semakin baik. Pun kita sebagai orangtua justru belajar bersama anak. Menjadi orangtua berarti harus selalu mau belajar, dan anak adalah guru terbaik yang kita miliki.

Maria juga menambahkan, pendidikan budi pekerti sebetulnya memiliki cakupan luas: sopan santun, keramahan, empati, hormat menghormati, toleransi, dan menghargai perbedaan. Kita perlu mengakui sebagai orangtua pun, kita kadang tidak konsisten melakukannya. “Sudah dewasa bukan berarti berhenti belajar. Sering kali kita malah belajar dari anak soal budi pekerti ini,” tutur Maria.

Membangun Budi Pekerti Bag2

Hati-Hati “Stempel”

Hal lain yang menarik menurut Maria, kenyataan bahwa kita hidup di lingkungan masyarakat yang masih mengedepankan budi pekerti. “Masyarakat kita cenderung menganggap orang yang tak menjalankan kebiasaan sesuai norma sebagai pribadi yang aneh, tidak mempunyai budi pekerti,” jelas Maria. Saat anak tak mau bersalaman atau mencium tangan ketika bertemu orang lain, dengan mudah “stempel” tidak sopan itu muncul, atau malah langsung diucapkan, ‘Yang sopan dong…’ Padahal, “stempel” seperti itu menyudutkan anak.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Yang perlu dipahami, tak semua anak punya karakter yang sama. Ada anak yang mudah beradaptasi sehingga ia cenderung mudah beramah tamah, mingle, dan bermain bersama orang yang baru dikenalnya. Namun, ada anak yang termasuk slow warmth alias terlambat panas, sehingga ia tak mudah akrab dengan orang baru. Kadang, kita terlalu mudah memberi anak “stempel” bahwa ia sopan atau tidak sopan atau bahkan “anak itu nakal” tanpa tahu (atau merasa tidak perlu tahu?) bagaimana keseharian si anak.

Jadi, daripada sibuk me labeli anak teman, tetangga, atau saudara sendiri, lanjut Maria, lebih baik kita cek lagi, apakah kita sudah cukup membekali anak dengan nilai-nilai budi pekerti, termasuk kesopanan? Sudahkah kita cukup mengingatkan anak tentang hal-hal kecil yang ternyata penting bagi kesiapannya hidup di masya rakat nanti?

Atau apakah selama ini kita sudah konsisten menjadi role model utama anak? Bekal budi pekerti ini akan mempermudah anak dalam bermasyarakat dan bersosialisasi di tengah lingkungan. Ia pun akan lebih mudah diterima karena perilakunya baik, positif, dan menjadi pribadi yang menyenangkan. Tentu kita ingin mendengar hal-hal baik yang dilakukan anak kita, kan?

Pembelajaran Seumur Hidup

Terakhir, konsistensi da lam menjadi role model bagi anak. Maria sekali lagi menegaskan, “Pekerjaan rumah besar bagi orangtua adalah terus menjaga dirinya untuk memiliki integritas dan budi pekerti yang baik. Paling tidak, di rumah anak belajar mengenai perilaku yang benar sebelum ia terjun ke dunia luas.”

Konsistensi ini juga yang perlu kita komunikasikan pada pasang an, pengasuh anak, juga keluarga dekat (kakek nenek, om tante, dan seterusnya). Jangan sampai anak bingung karena ia melihat terlalu banyak contoh.

Membangun Budi Pekerti

Rayya, 3 tahun, sedang bersama Papa di toko buku. Saat asyik melihat-lihat buku, tak sengaja ia menjatuhkan beberapa buah buku dari rak dan mengenai kaki seorang ibu di dekatnya. Buru-buru Rayya mengambil buku itu, merapikannya kembali, sambil berkata, “Maaf ya, Tante.” Mendidik anak dengan etiket tinggi, seperti Rayya, tentunya butuh proses. Maria Herlina Limyati, MSi, Psi., seorang psikolog anak, menuturkan senjata utama dalam menanamkan nilai-nilai kesopanan adalah menjadi panutan yang baik untuknya.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Misal, jika kita ingin anak bersikap hormat pada orang lain, tetapi kita malah bersikap kasar terhadap Si Mbak di rumah, maka anak akan melihat kita membedabedakan orang dalam berperilaku. “Jangan heran jika anak berperilaku sama. Action speaks louder than words,” tegas Maria. Menanamkan nilai-nilai so pan santun, juga perlu ditanamkan sejak dini. Pada usia 18 bulan, anak mulai memahami bahwa orang lain punya perasaan sepertinya. Boleh dibilang ini waktu yang tepat untuk mengajari anak bahwa perilakunya akan memengaruhi orang lain.

Cara mengajarinya pun tak harus dengan menjelaskan ini itu. Cukup lakukan dalam keseharian kita. Contoh, ketika si kecil membantu kita mengambilkan sesuatu, katakan terima kasih. Seiring pertambahan usia, kita bisa memanfaatkan story telling atau membahas kejadian sehari-hari yang anak lihat. Tempelkan empat kata sakti (permisi, tolong, maaf, terima kasih) dengan gambargambar menarik di tempat yang mudah dilihat anak.

Tentu dengan praktiknya juga sehingga anak tahu kapan ia perlu menggunakan kata sakti tersebut. Selain itu, anak pun per lu disadarkan bahwa setiap perilaku kita akan memengaruhi orang lain. Perilaku orang lain yang kita terima adalah imbas dari perilaku kita pada orang lain. Si batita mungkin tak langsung paham, tetapi kita bisa mem bantunya memahami.

Contoh, saat anak mendorong temannya sampai temannya jatuh dan menangis. Kita bisa berkata demikian, “Kenapa Rayya tadi dorong teman? Mama nggak suka Rayya dorong-dorong teman.” Tekankan pada perilakunya, bukan diri anak. Lalu, bantu ia untuk mencari tahu apa yang selanjutnya perlu ia lakukan, misalnya dalam cerita Rayya tadi, minta ia untuk minta maaf pada temannya.

Sumber : pascal-edu.com