Tidak Sebatas Efisiensi

Tidak Sebatas Efisiensi

Apa yang ada di pikiran Anda jika mendengar kata hybrid? Hemat bahan bakar? Rendah emisi? Hening? Ya, semuanya memang sudah sangat lekat dengan kata hybrid pada sebuah mobil.

Tidak Sebatas Efisiensi

Memang pada awalnya teknologi yang mengawinkan penggerak mesin bakar dengan motor listrik ini dikembangkan untuk mereduksi peng gunaan mesin bakar. Hasilnya, konsumsi ba han bakar cenderung berkurang.

Kata Sumber : JuanRamadhan.com

Namun, pandangan mengenai teknologi hybrid sekarang sudah berkembang. Tidak hanya sebatas efisiensi bahan bakar. Teknologi hybrid belakangan ini juga jamak digunakan untuk meningkatkan performa supercar. Benang merahnya, format hibrida yang menyediakan 2 sumber penggerak (mesin bakar dan motor listrik) sama artinya dengan bertambahnya sumber tenaga.

Jika pada mobil-mobil massal 2 sumber penggerak itu bekerja sama dengan orientasi efisiensi bahan bakar, maka di supercar, kedua sumber tenaga itu bergabung untuk menghasilkan mobil dengan tenaga ekstra. Mobil-mobil super yang mengadopsi sistem ini pun tak kalah bergengsi. Bahkan beberapanya merupakan ‘State-of-the-art’ di lini produk brand masingmasing.

McLaren P1

Pihak McLaren menjanjikan bahwa P1 mampu memberikan respons mesin luar biasa di setiap rentang putaran mesin. Memadukan mesin bensin 3.799 cc V8 bertenaga 737 dk dengan motor listrik bertenaga 179 dk, mobil ini secara keseluruhan memiliki tenaga total sebesar 916 dk! Karakter mesin bensin terkenal hanya menyalurkan tenaga maksimal pada rentang putaran mesin tertentu saja.

Sementara itu motor elektrik mampu memberikan tenaga dan torsi maksimal pada berbagai rentang putaran mesin. Nah, itulah gunanya tandem motor eletrik. Ia mampu memberikan bantuan dorongan tenaga dan torsi di saat mesin bakar belum bisa memberikan performa terbaik. Hasilnya, akselerasi dari 0-100 km/jam hanya perlu 2,8 detik saja. Yang menarik, instalasi motor elektrik McLaren P1 ditempatkan langsung pada bagian cylinder block.

Motor elektriknya juga telah dilengkapi sistem pendingin. Layaknya sistem hybrid lain, P1 juga tetap memiliki EV Mode, atau mobil hanya menggunakan motor listrik saja untuk bergerak. Namun, karena memang bukan dikembangkan untuk efisiensi, di mode EV ia hanya bisa melaju dengan jarak tempuh sekitar 10 km saja.

Baterai yang digunakan memiliki kapasitas 4,7 kWh dengan berat 106 kg. Diletakan di tengah untuk menjaga distribusi bobot yang baik. Layaknya mobil hybrid lainnya, baterai ini juga bisa menyimpan energi kinetik yang dihasilkan saat proses deselerasi. Baterai yang juga bisa diisi ulang melalui soket eksternal ini juga memiliki sistem pendinginannya sendiri. Oh ya, untuk mengisi ulang baterai secara penuh, butuh waktu sekitar 2 jam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.