Membangun Budi Pekerti

Rayya, 3 tahun, sedang bersama Papa di toko buku. Saat asyik melihat-lihat buku, tak sengaja ia menjatuhkan beberapa buah buku dari rak dan mengenai kaki seorang ibu di dekatnya. Buru-buru Rayya mengambil buku itu, merapikannya kembali, sambil berkata, “Maaf ya, Tante.” Mendidik anak dengan etiket tinggi, seperti Rayya, tentunya butuh proses. Maria Herlina Limyati, MSi, Psi., seorang psikolog anak, menuturkan senjata utama dalam menanamkan nilai-nilai kesopanan adalah menjadi panutan yang baik untuknya.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Misal, jika kita ingin anak bersikap hormat pada orang lain, tetapi kita malah bersikap kasar terhadap Si Mbak di rumah, maka anak akan melihat kita membedabedakan orang dalam berperilaku. “Jangan heran jika anak berperilaku sama. Action speaks louder than words,” tegas Maria. Menanamkan nilai-nilai so pan santun, juga perlu ditanamkan sejak dini. Pada usia 18 bulan, anak mulai memahami bahwa orang lain punya perasaan sepertinya. Boleh dibilang ini waktu yang tepat untuk mengajari anak bahwa perilakunya akan memengaruhi orang lain.

Cara mengajarinya pun tak harus dengan menjelaskan ini itu. Cukup lakukan dalam keseharian kita. Contoh, ketika si kecil membantu kita mengambilkan sesuatu, katakan terima kasih. Seiring pertambahan usia, kita bisa memanfaatkan story telling atau membahas kejadian sehari-hari yang anak lihat. Tempelkan empat kata sakti (permisi, tolong, maaf, terima kasih) dengan gambargambar menarik di tempat yang mudah dilihat anak.

Tentu dengan praktiknya juga sehingga anak tahu kapan ia perlu menggunakan kata sakti tersebut. Selain itu, anak pun per lu disadarkan bahwa setiap perilaku kita akan memengaruhi orang lain. Perilaku orang lain yang kita terima adalah imbas dari perilaku kita pada orang lain. Si batita mungkin tak langsung paham, tetapi kita bisa mem bantunya memahami.

Contoh, saat anak mendorong temannya sampai temannya jatuh dan menangis. Kita bisa berkata demikian, “Kenapa Rayya tadi dorong teman? Mama nggak suka Rayya dorong-dorong teman.” Tekankan pada perilakunya, bukan diri anak. Lalu, bantu ia untuk mencari tahu apa yang selanjutnya perlu ia lakukan, misalnya dalam cerita Rayya tadi, minta ia untuk minta maaf pada temannya.

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *