Membangun Budi Pekerti Bag2

Hati-Hati “Stempel”

Hal lain yang menarik menurut Maria, kenyataan bahwa kita hidup di lingkungan masyarakat yang masih mengedepankan budi pekerti. “Masyarakat kita cenderung menganggap orang yang tak menjalankan kebiasaan sesuai norma sebagai pribadi yang aneh, tidak mempunyai budi pekerti,” jelas Maria. Saat anak tak mau bersalaman atau mencium tangan ketika bertemu orang lain, dengan mudah “stempel” tidak sopan itu muncul, atau malah langsung diucapkan, ‘Yang sopan dong…’ Padahal, “stempel” seperti itu menyudutkan anak.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Yang perlu dipahami, tak semua anak punya karakter yang sama. Ada anak yang mudah beradaptasi sehingga ia cenderung mudah beramah tamah, mingle, dan bermain bersama orang yang baru dikenalnya. Namun, ada anak yang termasuk slow warmth alias terlambat panas, sehingga ia tak mudah akrab dengan orang baru. Kadang, kita terlalu mudah memberi anak “stempel” bahwa ia sopan atau tidak sopan atau bahkan “anak itu nakal” tanpa tahu (atau merasa tidak perlu tahu?) bagaimana keseharian si anak.

Jadi, daripada sibuk me labeli anak teman, tetangga, atau saudara sendiri, lanjut Maria, lebih baik kita cek lagi, apakah kita sudah cukup membekali anak dengan nilai-nilai budi pekerti, termasuk kesopanan? Sudahkah kita cukup mengingatkan anak tentang hal-hal kecil yang ternyata penting bagi kesiapannya hidup di masya rakat nanti?

Atau apakah selama ini kita sudah konsisten menjadi role model utama anak? Bekal budi pekerti ini akan mempermudah anak dalam bermasyarakat dan bersosialisasi di tengah lingkungan. Ia pun akan lebih mudah diterima karena perilakunya baik, positif, dan menjadi pribadi yang menyenangkan. Tentu kita ingin mendengar hal-hal baik yang dilakukan anak kita, kan?

Pembelajaran Seumur Hidup

Terakhir, konsistensi da lam menjadi role model bagi anak. Maria sekali lagi menegaskan, “Pekerjaan rumah besar bagi orangtua adalah terus menjaga dirinya untuk memiliki integritas dan budi pekerti yang baik. Paling tidak, di rumah anak belajar mengenai perilaku yang benar sebelum ia terjun ke dunia luas.”

Konsistensi ini juga yang perlu kita komunikasikan pada pasang an, pengasuh anak, juga keluarga dekat (kakek nenek, om tante, dan seterusnya). Jangan sampai anak bingung karena ia melihat terlalu banyak contoh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *